Maaf Bu.. Aku Sangat Menyayangimu.


Maaf Bu, aku pernah mengecewakan Ibu

Kalau diingat, rasanya aku ingin mati saja daripada aku harus menyakitimu

Maaf Bu, pernah kubiarkan air matamu jatuh membasahi pipimu

Aku pernah menjadi anak yang tidak menyenangkan saat itu

Maaf Bu, aku pernah memahat kecewa di hatimu

Perihal candaan tak pada tempatnya, yang merobek tawamu berubah menjadi pilu

Maaf Bu, engkau banyak kecewa karenaku

Sifatku yang belum matang membuatmu memendam bisu

Betapa banyak doa yang telah engkau langitkan untukku

Tapi, sikapku sering membuatmu sendu

Sadarlah aku akhir-akhir ini, tidak ada hal yang paling berharga selainmu

Tengah malam gelap ku amati selimut yang menghangatkan tubuhku.. 

Siapa yang menyediakan selimut ini kalau bukan Ibu? 

Kupandangi setiap sudut kamar lamat-lamat, bukankah semua ini hasil kerja Ibuku?

Bahkan semua yang kukenakan berasal dari kasih sayangmu


Maruk sekali kalau dipikir, betapa kau mengeluarkan banyak cinta yang tak pernah meminta balasan. Begitu kasih sayangmu seluas lautan tak bertepi. Aku teringat perihal masa kecil yang sering kau ceritakan.. Aku selalu merenung mengapa hidupmu berat sekali? Tapi kau masih mampu hingga saat ini. Ujianmu sejak kecil hingga kini tak pernah ringan? 

Jika aku menempatkan posisiku di dirimu, aku sudah mati bunuh diri.

Wahai, kau tangguh sekali ya Bu.. Tubuhmu kecil, pendek, kurus, dan rapuh di luar. Tapi badaimu angin ribut yang menggulung. Kau pintar meneduh. Bahkan gerimis hidupmu saja dari jarum keperakkan, kau pandai mengambil jas hujan. Repalan yang kau ucapkan bagai senjata untuk melawan keterpurukan. Aku ingin sehebat dirimu, tapi aku takut tak cukup kuat melawan badaiku sendiri. 

Aku mengagumimu sekaligus menyayangimu. Tak ada orang sehebat ini yang kukenal. Walau saat remaja dulu aku pernah menjadi badai untukmu, sekarang aku ingin menjadi bagian dari senjatamu.



Kamar Depan, 14 September 2024

Komentar

Postingan Populer