Bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban, cahaya yang tiba-tiba hadir dan menghidupkan kembali jiwaku yang sempat redup.
Sayang, mungkin aku tak pandai berkata banyak, namun dalam tulisan ini izinkan aku mencurahkan isi hatiku yang selama ini kusimpan rapat-rapat.
Semua berawal dari diamku, ketika aku menyukaimu tanpa seorang pun tahu, bahkan sahabat dekatku sekalipun. Hanya Tuhan yang menjadi saksi, pada-Nya kusebut namamu dalam doa, menjadi harap agar jika engkau baik untukku, semoga Dia dekatkan, dan jika tidak, biarlah Ia menjauhkan. Namun ternyata jawaban dari doa itu adalah pertemuan kita. Aku pernah mengira akulah yang lebih dulu menyukaimu, ternyata aku salah, karena matamu sudah lebih dulu menemukanku, dan bibirmu pernah bertanya lirih kepada orang lain tentang diriku. Sejak saat itu aku percaya, ada rencana indah yang sedang digenggam oleh semesta. Rasa yang semula hanya kusembunyikan dalam diam, ternyata bertemu dengan rasa yang sama darimu, lalu dibalut oleh penasaran dan perlahan tumbuh menjadi cinta.
Sayangku, sebelumnya aku tak pernah merasakan hidup yang sedekat ini dengan seorang pemuda. Segala gerakmu menarik perhatianku. Aku, yang dulu hanya berani memperhatikanmu diam-diam, berusaha keras menyembunyikan segala tanda agar tak terlihat. Tak ada niatku untuk buru-buru menikah atau bercinta, tapi daya tarik yang datang darimu demikian kuat, sehingga perasaanku tak berdaya untuk menolaknya. Sering aku menyembunyikan kebodohanku saat diam-diam memandangi ragamu, bahkan sempat menerka, apakah kau juga tengah meneliti diriku? Dadaku bergeletar, seolah api menggelegak, dan ternyata dugaanku benar. Tatapanmu menyimpan getaran; gelombangnya menyentuh hingga ke pelupuk mataku.
Tak bisa kusampaikan sepenuhnya di sini tentang apa yang kulakukan demi dirimu. Hari demi hari kuperhatikan apa yang kau sukai, kukuliti demikian kabar dan kesibukanmu. Hingga akhirnya aku mengkhianati janjiku sendiri, janji untuk menunggumu sampai waktunya matang. Aku terlalu takut bila ternyata kau tak menoleh kepadaku, atau bahkan sudah menjadi milik orang lain. Namun semesta menjawab dengan caranya. Kau datang padaku, menerima pernyataan anehku dengan lembut, menyambutku bahkan sebelum sepenuhnya mengenalku.
Sudah berapa bulan kita tempuh, semua baik-baik saja, sekalipun ada kesalahpahaman sebisa mungkin kita selesaikan sambil berpelukan. jantung bertemu jantung, aliran air asin mengalir. Itu yang membuat semuanya indah, aku tidak pernah tahu bahwa kau selembut ini. Begitu kerasnya badanmu tidak sesuai dengan apa isi hatimu yang begitu lembut.. Dirajut hati-hati seolah itu sutra. Tak apalah, Lelaki kadang perkasa dalam hal luar tapi lembut dan rentan perkara dalam. Pertama kali kudengar kau menyebutku dengan penuh sayang, kedengarannya beralun merdu meresap dalam hati. Aku tau hatiku tak akan kuat, setiap suaramu yang rendah langsung menuju hati. Setiap nyanyianmu yang dilantunkan membawa senyum di hatiku, suaramu yang lembut dibawa rendah menjadi hangat dalam hatiku. Tatapanmu yang masih kusukai sekaligus kumiliki selalu lembut yang sedemikian syahdu sehingga tak membuatku mampu untuk meninggalkanmu bahkan sedetik pun. Seringkali tatapan kita lebih demikian sensitif dan erotis untuk saling melapisi nafsu. Seringkali juga tatapan kita lebih demikian sensitif dan kelabu untuk saling melapisi rapuh. Mata yang menyediakan diri untuk dijelajahi. Dan jika aku menjelajahinya, yang kudapatkan adalah ketulusan. Ochi Chornye berbicara tentang mata yang dalam dan menggetarkan, mata yang menaklukan kita sebagaimana cinta, dan barangkali Tuhan, membakar kita dalam keindahan.
Dan kini kita di sini, menyambut hari kelahiranmu bersama. Pernahkah terbayang sebelumnya bahwa aku akan merayakan hari lahirmu di sisimu? Mungkin inilah bukti bahwa ketika hati diarahkan dan pikiran dibuka, semesta mempertemukan kita pada satu jalur. Kita, yang dulu hanya bayangan, kini nyata saling menggenggam. Sayang, apapun keadaanmu saat ini akan kutemani hingga waktu tanpa batasnya. Sejak awal aku sadar, yang kucintai bukan hanya ragamu, tapi juga jiwamu, akalmu, pemikiranmu, emosimu, cintamu, kasihmu. Karena aku tahu, jika semua itu tak ada pada dirimu, aku tak akan pernah berjuang sejauh ini untuk mengejar cintamu yang begitu langka. Semua perlakuanmu yang indah; dari menggenggam tanganku, menciumku, memelukku, memastikan aku baik-baik saja yang membuat gadis kecil dalam diriku merasa menemukan rumahnya. Rumah yang dinamis, yang mengajakku berpetualang dalam dunia kecil kita. Aku ingin menyambut laki kecil dalam dirimu sayang, kalau duniamu tidak menyenangkan setidaknya hari ini, di umur lebih dari 20 bisa kau nikmati dan syukuri. Mensyukuri bahwa Tuhan menjanjikan impian itu tetap terkabul dengan umurmu yang bertambah angka. Hari ini, sebagai peringatan bahwa kau dilahirkan untuk orang lain, dipercayakan bahwa kau memang andal semua hal yang tidak bisa dimiliki semua orang. Sekadar membantu ekonomi ibu atau bapak di pasar. Sapaan mereka yang membuatmu senang dan bangga.
Lakukan saja, sayang. Mari kita rayakan hari ini dengan syukur dan bahagia. Karena kelahiranmu bukan hanya penantian keluargamu, tapi juga jawaban atas penantian hatiku.
“Sayangku,” bagai sebuah koma dalam kalimat panjang. Ia bukan akhir, melainkan jeda yang memberi napas pada cerita kita. Seperti koma yang tak pernah berpaling pada titik, aku pun berharap kisah kita tak pernah menemukan akhir. Biarlah ia terus mengalir, merangkai kata demi kata, hari demi hari, hingga menjadi kalimat terindah yang tak pernah selesai.
Kekasihmu
Komentar
Posting Komentar