Tiga Ratus Enam Puluh Derajat
Terlalu banyak hal yang mengerikan di dunia ini, tapi beruntungnya saya punya kalian.
Fito, Nadya, Rifky, dan Jagad adalah teman saya sejak awal masuk kelas 10. Kami memang baru dekat saat itu, sebenarnya kami satu SMP namun saya tidak terlalu dekat dengan Fito, Rifky, dan Jagad saya hanya mengetahui wajah dan nama mereka. Saya hanya dekat dengan Nadya sedari kelas 7 dan memang kebetulan kami satu sirkel di pertemanan SMP. Singkat waktu, ketika memasuki kelas 10 ternyata kami satu sekolah lagi terkecuali si Jagad. Kami menjadi dekat karena alasan pernah satu SMP, pertama kali kami dekat berkat Fito dan Nadya yang memang merencanakan ini. Jadilah untuk pertama kalinya kami berempat satu grup, tidak lama kemudian masuklah Jagad ke dalam pertemanan ini karena memang ia berteman dengan Fito dan Ripki, tak apalah ia bergabung di grup kami. 2020-2021 merupakan pandemi yang mengharuskan kami semua sekolah full daring, kami melaluinya bersama bahkan kami sempat satu eskul.
Saya pikir grup ini hanya diperuntukkan informasi tugas dan sekolah.. nyatanya lebih dari itu. Justru kami membawa banyak cerita dari kehidupan masing-masing. Seperti semua manusia pada umumnya, kami hanya anak remaja biasa yang dilabuhi banyak masalah mulai dari masalah percintaan, pertemanan, hingga permasalahan keluarga, tak jarang juga kami bermasalah pada perekonomian. Awalnya saya berpikir bahwa ini hanya grup curhatan kami yang memang dilakukan untuk melepaskan segala keresahan kami. Namun, saya mencoba memandang pada sudut yang berbeda, jika saya hanya melihat pada sudut 180° tentu saja grup ini hanyalah seperti diari milik remaja bermental tidak stabil, tapi jika saya memandangnya menggunakan busur 360° ini lebih dari sebuah curhatan. Jika dilihat dalam kondisi lingkaran penuh sebetulnya kami saling menguatkan satu sama lain, kami semua rapuh, ingin menyudahi semuanya, orang-orang entah mengapa sebegitu jahatnya... Bayangkan dalam kondisi terpuruk kami tidak ada tempat untuk mencurahkan isi pikiran, bisa dibilang kami tidak memiliki siapapun untuk sekadar bercerita.
Mereka, setidaknya saya jadikan alasan bahwa tidak semua orang itu jahat. Masalah rumit semakin runyam. Di antara mereka bahkan sering melakukan self harm, sebegitu sakitnya kami di sini, saya juga heran karma apa yang menimpa mereka atau ujianlah yang mereka hadapi. Untuk ini semua, kami tetap bertahan pada kondisi masing-masing, saya sungguh menyayangi teman-teman saya ini. seiring berjalannya waktu, kami juga membaik hingga sekarang, walau tidak sepenuhnya tetapi cukup membaik, tak separah sewaktu SMA, sebab masa sekolah kondisi terparah kami. Intinya walau kami di sekolah jarang bertemu, kami masih bertukar pesan via WhatsApp, apa saja yang terjadi. Penting tidak penting tetapi jika kami bersama menjadi alasan untuk tetap utuh.
Kami juga kadang bermain walau tidak sering, sekecil dengan alasan "bosan sendiri" atau "sedang sedih" kami menyalurkannya dengan cara bermain atau kumpul bersama, karena dengan begitu setidaknya kami masih bisa waras. Mereka menjadi orang yang cukup saya percayai, pun sebaliknya. Entah dari segala hal sepele sepertinya sudah saya syukuri, berteman dengan mereka juga berkah dari Tuhan, Tuhan-lah yang mengirimkan mereka kepada saya. Saya tidak perlu merasa malu menampilkan kepribadian nyeleneh saya sebab dengan mereka saya tidak merasa takut untuk dihakimi. Menemukan mereka bagai menemukan lahan kosong yang bisa kau coret dengan indah maupun abstrak tanpa perlu merasa gamang.
Pertemuan yang awalnya sepele menjadikan hidup saya sedikit terhiasi dengan keberadaan mereka. Saya bisa menjadi diri saya sendiri di depan mereka, berpenampilan apa adanya, berkata apa adanya, ingn gila seperti apa.. semua menjadi hal lumrah di mata mereka. Kenangan yang sudah kami lewati selama 4 tahun ini menjadi memori nostalgia yang saya syukuri, mereka membuat saya banyak bahagia dan tawa. Sayang rasanya jika rasa berterima kasih saya tidak dituliskan pada blog ini. Karena bagaimana pun mereka adalah orang yang menemani saya ketika pada masa sulit maupun bahagia.
Saya berharap semoga pertemanan dan komunikasi kami tetap berlanjut hingga tua nanti, saya ingin mereka menjadi paman-bibi untuk anak-anak saya kelak (jika saya menikah). Menceritakan kisah konyol kami kepada kurcaci kecil saya bisa menjadi hal yang menyenangkan. Fito, Nadya, Rifky, dan Jagad entah bagaimana akhir nasib kita masing-masing nanti, semoga kita semua tetap dikuatkan, diberkahi, dialiri dengan nasib yang baik. Aamiin.
Terima kasih telah menjadi teman saya yang berharga.
Terima kasih telah menjadi teman saya yang berharga.
Bandar Lampung, 21 Agustus 2024.
Komentar
Posting Komentar