KEKASIH PLATONIS


    Maharani, saya tak mengerti mengapa kamu menjadi teman yang paling berkesan di antara teman lainnya.


    Di kelas itu kau paling diam di antara mereka, waktu itu wabah virus konyol sedang menyebar bagai ancaman di penjuru dunia yang mengharuskan kami untuk melakukan sekolah dengan metode shift pagi dan siang. Kau yang pinter tur anteng jadi salah satu objek yang membuat saya penasaran. Kau siswi olimpiade fisika yang sibuk kala itu, dan kau cantik sebab tak ada berintisan di dahimu dan wajahmu sungguh jernih, alismu tebal amat rapihnya, hidungmu kecil bangir, dan warna kulit terangmu yang menjadi poin plus di sini, wahai, elokmu ayu sekali. Pada saat itu saya tak berpikir jauh untuk bisa berkenalan denganmu, tapi ada saat masuk sekolah sehabis liburan pendek, aturan sekolah menyuruh untuk duduk satu meja. Saya sempat bingung harus duduk dengan siapa sebab saya juga pendiam tak kenal orang, tengok kanan-kiri semuanya sibuk masing-masing, saya tak punya teman. Hingga pada akhirnya saya teringat kamu yang juga pendiam di sebrang kiri meja saya, tak pernah berbicara dan selalu menundukkan pandangan, kau cupu, begitupun saya. Akhirnya saya memutuskan untuk berkabar denganmu di sebuah aplikasi pesan, kutanya padamu apakah kamu sudah memiliki teman duduk, belum jawabmu, jika kuajak kamu duduk dengannku apakah itu akan meringankan beban mu sedikit? Sebab kau tak payah bingung mencari pasangan duduk lagi, kau mengiya. Malam itu saya lega sebab sudah memiliki teman duduk dan malam itu saya senang kita akan berteman.

    Hari pertama duduk bersama masih banyak kecanggungan di antara kami, maklumlah energi kami belum betul mengenal. Tapi, satu hal yang saya senangi, kamu berada di frekuensi yang segaris dengan saya, saya senang sebab mencari seseorang yang satu garis dengan saya ampun sulitnya. Dari purnama ke purnama kita semakin dekat dan energi pisah menjelma satu yang terlihat ghaib. Setiap hari kita bertukar kegiatan di pesan, kau sedang apa aku sedang ini, dan itu membuat saya agak hidup. Permasalahanku dan permasalahanmu yang dalam, Mahar, begitu cerita yang membuat kita semakin satu. Narasi menitis karib. Begitupun yang saya tahu betapa banyak kesialan hidupmu yang kian membuatmu menderita, saya berpikir juga di sini bahwa kasih datang dengan cara yang aneh setelah kita terlibat dalam suatu kesedihan. Humor kami cocok, kami bahkan selalu tertawa jika bersama, itu pertama kali di hidup saya merasakan bahagia berteman dengan seseorang, kamu yang jadi pertamanya. Kali pertama saya merasakan bahwa saya tidak hanya menganggapmu sebagai sahabat, semakin lama ada terasa yang berbeda di sana, bukan sesuatu hal yang birahi, bukan, perasaan sayang saya kepadamu yang begitu ulung. Kau yang menjadi orang pertama ketika tak ada lain yang membantu, kau yang menjadi penolong pertama saya, kali pertama saya menangkap perasaan yang alus sanget pada kawanku. 

    Semakin lama semakin saya hargai waktu bersama kamu jika ada kesempatan waktu, karena kamu begitu sulitnya memiliki waktu nganggur, kau dicecar pembimbing olimpiade yang membuat waktumu terikat. Saya senang ketika menginap di rumahmu, dan ibu, om begitu ampun baiknya kepada saya. Kamu baik dan keluargamu baik, baik juga kucingmu yang doyan beranak-pinak. Kali pertama saya memiliki satu teman yang baik seperti ini, dulu saya lihat dua orang berteman itu seperti sulit bagi saya karena saya rasa, saya susah untuk menemukan orang yang pas, dan di situ saya betapa syukur memiliki teman seperti Mahar. 

    Memasuki jilid kelas 12, ternyata kami sekelas! Sebab saya dan Mahar selalu berdoa untuk diberikan kesempatan bersama, karena kami takut terpisah. Namun, ternyata di sini ujian telah diberikan. Banyak sekali duka yang kami lewatkan, duka yang amat pedih, bahkan kamu sering dispensasi olim yang memberikan saya ruang sendiri di bangku. Juga beberapa teman baru yang menyukaimu, ada satu gadis yang ingin sekali berteman denganmu, sebab kau cantik. Kesedihan semakin terparut di masa ini yang mengharuskan kita selalu berbagi kesedihan timbang guyonan, saya menyemangati kamu dan kamu menyemangati saya. Dan gadis itu gencar mendekatimu dengan berbagai buah tangan di genggamannya. Saya tak apa bila mereka berteman padamu, karena manusia makhluk sosial, dan saya tak berhak cemburu. Sungguh, saya tak apa dia berteman denganmu. Ada masa pengahancuran di mana kau sulit untuk mendapat PTN tanpa tes, dan itu sulit bagi yang lainnya juga, keos, bagian ini semua orang menangis karena agenda perebutan jurusan, sialnya siapa yang peringkat tinggi dialah yang berkuasa, siapa suruh kau bodoh. Tapi bagian ini menjadi kisah hancurnya Maharani, kau menangis di dinding railing, suara getarmu menyambung di telepon genggam terkoneksi ibu. Wahai, saya juga tak kuat mengingat bagian ini sebab temanku banyak menangisnya dan saya bingung bagaimana menenangkannya. Gadis C bertanya kau kenapa, karena jurusan saya jawab, dia mengiya. Saya tahu, dia juga ingin menenangkannya. 

    Akhirnya yang kita tahu, kau harus menghadapi ujian memasuki universitas, kau begitu hebatnya sibuk walau sekolah telah usai. Tidak ada waktu bersama lagi, pesanku senin kau balas selasa. Saya tak apa, asal itu yang terbaik untukmu, saya tak apa sebab ini menyangkut pintu pendidikanmu. Hingga beres kau terpilih di salah satu kampus ternama di kota ini. Alhamdulillah saya juga lega. Tapi, tetap sulit untuk diajak main lagi, entah sibuk pekerjaan rumah, bantu ibu, dan saat itu kau juga dekat dengan si gadis C. Lama-kelamaan saya merasa tolakanmu merupakan alasan yang dibuat-buat, ternyata kau sibuk dengan orang baru. Ada perasaan sedikit kecewa dalam relung saya, di mana teman saya yang amat baiknya? Saya mulai bingung dengan perasaan saya sendiri, saya kesal juga cemburu, saya nesu sama Mahar. Kau mengabariku, oh ternyata bisnismu bersama gadis C, saya turut senang dengan pencapaian kalian dan saya mendukung. Hebatnya kamu sudah bisa berkendara sendiri berkat gadis C, duhai, saya dengan kesungguhan hati sangat senang karena gadis C telah membantu kamu disegala hal. Karena jika kamu hanya bermain dengan saya, saya yakin kamu tak bisa melakukan hal yang seperti ini. Adakala saya memergoki pesanmu dengan gadis C, penuh kalimat manis sekali, lalu gadis C selalu sibuk menelponmu ketika kita ada kesempatan bermain bersama, berkali-kali, dan kamu berbohong bahwa itu telepon dari adikmu, lalu ibumu menelpon juga menyuruhmu pulang. Saya berani bersumpah tidak akan membawa Mahar kalian pergi, saya jadi tak enak kalau dia jadi ditelponin begini karena bermain dengan saya. 

    Perasaan halus saya berubah getir, kamu sibuk kuliah yang ketika aku kirim pesan hari senin kau balas bulan depan. Sedangkan saya tahu bahwa pahitnya, chatmu kepada gadis C tidak berhenti sembarang 8 jam saja. Saya jadi jirih kamu akan meninggalkan saya, saya jadi cemburu kamu lebih mendahulukan gadis C dan saya kamu lupakan, saya jadi kesal kamu tidak balas pesan saya lagi. Saya sibuk kuliah dan kamu juga sibuk kuliah, kamu juga bilang sudah tak sempat berjualan. Saya sangat terima bahwa kamu memang sibuk, tapi saya tak terima ketika gadis C sekarang menjadi prioritasmu. Wahai, saya cemburu sekali. Tapi saya bisa apa selain menunggu pesanmu yang diantar menggunakan burung puyuh. Setelah hari itu, saya merasa sedikit demi sedikit kamu menjauhi saya. Hingga akhirnya kita di lautan sibuk, saling terpaut ombak satu sama lain. Pertemanan kami renggang. Itu, anehnya, bukan menimbulkan kebencian melainkan kehilangan yang semakin minta ditebus. Saya sedih sekali di sini.

   Terakhir sekali kamu mengajak saya buka bersama di bulan puasa kemarin, saya bahagia bukan main, pakaian saja sampai pinjam ke orang lain. Saya juga memohon padamu untuk melakukan photobox di sebuah mall, sebab betapa jarangnya kami mengambil gambar berdua, sedang dengan gadis C gencar sekali buat story berdua. Tapi, terakhir kali kita bertemu gaya bicaramu berbeda, perilakumu agak berbeda, saya memerhatikan kamu, Mahar. Barangkali karena kuliah gaya bicaramu berbeda, barangkali karena kuliah sikapmu banyak diam, barangkali..
Tetap saja layar kotakmu menampilkan kontak gadis C yang sibuk menelponimu, tak lama juga ibumu yang menelpon sebab sudah jam 8 malam. Saya jadi tak enak. Kejadian seperti ini sama seperti kejadian kali terakhir kita bermain di rumah saya. Hingga akhirnya, malam setelah kita bersama kau tak biasanya mengunggah story di aplikasi pesan, berisikan bahwa betapa muaknya kamu mengahadapi setiap orang dengan dirimu yang berlain-lain. Sebelumnya, saya melihat video itu di instagram yang telah kamu bubuhi tanda suka, waktu itu saya menangis karena saya pikir pasti kamu sedih terhadap orang kampus yang sering kali kamu ceritakan membuatmu lelah. Tapi, video itu  muncul lagi di storymu sendiri, setelah bermain dengan saya, apa itu yang kamu rasakan? 

    Saya menangis karena merasa tak enak padamu, barangkali kamu menjadi orang lain di samping saya tadi, seorang yang sempat membuat saya bingung dengan sikapnya. Maafkanlah bila bersama saya kamu harus menyetir jauh-jauh dengan berat motormu, apalagi kamu bersikukuh tidak mau saya bayar makanannnya. Kepala saya bertanya mengapa jadi begini? Bebankah saya untukmu? Mahar, maaflah apabila bermain dengan saya tak membuatmu senang, apabila kamu sakit hati dengan perkataan atau tingkah saya yang di atas kesadaran. 

    Puncaknya kemarin, saya memergoki kamu dengan gadis C di parkiran salah satu mall besar, saya terlonjat dalam bisu melihatmu, sedetik kemudian saya merasa bulu kuduk meremang. Saya melihat gadis C yang sibuk mempresisi motor di parkiran, dan kamu menontonnya sebab kamu tak perlu payah memarkirkan motor seperti terakhir kali kita bermain. Saya merasa bahwa tengkuk saya mengerenyit menjelmakan cangkang keras sebab pertemuan tak disengajai ini. Tangan saya agak dingin. Demi kewarasan, saya tak berani bertegur denganmu dan saya membohongi tingkah laku saya dengan membaca karcis parkir melewati depanmu. Saya merasa tak berpikir jernih di perjalanan, terlalu banyak tanda tanya di benak saya. Pesan yang saya kirim belasan tidak ada satupun yang dia balas alih-alih hanya dibaca. Dia sempat bermudik ke Bogor dan saat berangkat berkabar dengan saya, namun saat sudah pulang di sini sama sekali tak berkabar dan chat saya hanya dibaca. Saya termangu diboncengan motor. Tidak sepenting itu lagi saya di matanya. Saya jadi teringat pesannya yang mengucapkan maaf tiba-tiba sebelum lebaran, mungkin itu untuk ucapan lebaran saja, tapi saya merasa ada maksud lain juga. 

    Saya banyak berpikir tentangmu, apakah memang kamu sudah tak ingin menjadikan saya teman lagi..
Mungkin iya, karena saya merasa beban di sini untuknya. Maafkan saya Mahar, saya tak bermaksud begitu sebab saya memang tak bisa. Jika memang benar kamu ingin menjauhi saya, maka saya pikir lebih baik kita tidak ketemu lagi. 

    Maharani, terima kasih kamu telah membantu saya selama 3 tahun terakhir, saya senang kamu mau berteman dengan saya yang penuh kekurangan. Maaf saya kurang membuatmu senang dan merepotkanmu dalam banyak hal, ibu dan bapak saya menyayangimu karena kamu baik. Saya berharap senang dan sukses untukmu. Saya sayang kamu, Mahar.



Di sini, perjalanan, kawan, tidak seindah yang dibayangkan.

Komentar

Postingan Populer