Logam dan Ibu
Ibuku yang setengah logam berkarat.
Seperti biasanya Ibu akan pulang ketika matahari berpamitan meninggalkan kerjaan selama 10 jam lamanya, jam bekerja matahari sama dengan jam kerja Ibuku. Kali ini, Ibu menjejakkan kakinya di rumah secara terbopoh. Aku sibuk bermesraan dengan tugasku di laptop, ia yang lewat aku hanya tahu. Cairan berasal dari lambung yang tak sempat tercerna sempurna, hijau kuning padanan warnanya, utas-perutas tali keriting mirip cacing, bau asam lambung yang memuakkan hidungmu, muntahan terus tercurah dari mulut Ibu. Begitu pula jeritan yang ia buat, orang rumah menjadi berkumpul sebab jeritanmu padahal kami jarang sekali berkumpul seperti ini. Terima kasih, Bu. Tapi wajahmu tak enak Bu, kau kenapa?
Bergiliran kami membawakanmu sebaskom air untuk membersihkan cairan dari muntahmu, semua panik dan kau berisitighfar. Ku urut tengkukmu lembut, kau tetap berisitighfar, kau kenapa Bu jangan membuatku melankolis, aku takut kau meninggalkanku. "Selimutin Ibu, Dik. Pijatkan kaki Ibu" pembawaanmu bergetar. Katamu atmosphere terasa menggigil, Bu badanmu panas tak ada dingin di hangat telapakku. Ibu demam. Malam itu kau terus merancau.
Sudah empat hari kau begini, aku mengurusmu sebisanya karena tuntutan kuliah dan kau menyuruhku tidak usah memperdulikamu. Kau Ibuku, bagaimana bisa aku tak memperdulikanmu, memperhatikanmu, mengurusimu, itu syarat kewajibanku sebagai anak. Bu, jika merawatmu bisa menghilangkan pekerjaanku aku lebih memilih kehilangan pekerjaan daripada kehilanganmu, sebab aku tak seberapa peduli dengan dunia yang tak abadi terlebih dunialah yang membuatku kacau.
Hari ke-lima kau sudah lebih baik tapi kau tidak cukup senang, mata kiri berkarat. Tidak diketahui secara pasti namun yang pasti tekanan darahmu sempat tinggi dan pembuluh darah bagian matamu pecah. Bagaimana bisa kugambarkan dirimu, Bu? Suaramu meriahkan rumah ini sekali lagi, kau mengeluh matamu buram kiri. Aku (sekali lagi) yang bermesraan dengan tugas di laptop ikut menyahutimu, buram buram buram katamu. Matamu berkarat. Hitaman merah ada di sisi skleramu. Kau tampak dihadapanku seperti dua manusia berbeda ia terbentuk atas sepasang unsur: kanan dan kiri, karat dan normal, logam dan Ibu. Aku tidak pernah membayangkan dirimu yang berpaduan dua aneh ini. Logam karat dan Ibu, ini keunikan barangkali bukan. Kau seperti paduan warna krom dan kuning lembut, sisi kanannya adalah seorang Ibu yang ku kenal, hangat, belas kasih, susu, dan ciuman yang kau berikan di jidatku masih terasa, begitu lembut perlakuanmu padaku. Namun sisi kirimu adalah perkaratan logam yang atos, dingin, bebahaya. Itulah gambaranmu di mataku, fisikmu seperti itu sekarang.
Jika kau melihat Ibuku saat itu, jika pula engkau cukup peka untuk menafsirkan kedua perbedaan Ibuku saat itu, maka kau akan melihat Ibuku yang hidup dari dua unsur yang berbeda. Seseorang Ibu di kanan, sesosok ziarah di kiri. Rupamu seperti dukun handal. Dukun yang bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda yang tak bisa dirasakan manusia manapun, sebab logammu sebagai tanda ilmu yang kau bangun dari hasil bertapa.
Tidak. Itu hanya anganku saja. Ibuku tetaplah Ibuku tak ada dukun yang menempati. Sebab kecupanmu di jidat dan pelukanmu yang menyertaiku selalu kurasakan sampai tiada waktu yang ditentukan, tidak ada dingin yang kurasakan, tidak ada bahaya yang kurasakan. Walau kau cerewet sekali Bu, tapi itulah caramu menunjukkan kasih sayangmu padaku. Halus, lembut, bau susu itu masih kuingat sebagai tanda sayangmu padaku, taklah kau akan kubenci, kau yang paling kusayangi sebab kau tak pernah dan tak bisa menyakitiku. Janganlah engkau berpikir aku tak pernah menyayangimu, justru kau adalah pintu duniaku, kaulah garbaku.
Note: Mata Ibu sudah normal seiring berjalannya hari.
Komentar
Posting Komentar