0
Pukul 17:35
Apakah menangis adalah alat sebagai tumpahan emosional untuk manusia?
Apakah kesedihan sebagai perantara tumpahnya embun mata untuk manusia?
Aku rasa iya, barangkali tidak juga.
Selalu ada aroma keringat letih dan asap sampah yang dibakar warga selama perjalanan pulang kuliah. Selalu ada hembusan putus asa dari dalam kamar, begitu memuakkan dengan kuis yang harus dipenuhi setiap minggu. Kamar sepetak sedikit barang, beberapa setel pakaian kotor di pojok. Gelap, semakin padam oleh langit yang pergi. Maghrib sebagai pintu menyambut malam.
Ketika lantunan mengaji sudah terdengar di mana-mana, dan burung dara yang patuh pada majikan untuk kembali ke sangkarnya, jingga yang menghentikan tur sorenya lalu menyusup ke sebuah ceruk yang tidak diketahui padam. Lebih gelap dari malam yang diterangi lampu jalan, kamar anak itu. Duduk di lantai bersangga dengan dipan, sebab tidak memiliki kursi duduk tidak pula memiliki meja. Baju yang sudah dipakainya selama dua hari, tidak menimbulkan bau apapun kecuali bau asap sampah sisa perjalanan. Dengarlah, kau baru memulainya, dan kehidupanmu baru mulai di usia 20an ini. Ini kesungguhan hidupmu, hidup sesungguhnya ketika engkau dewasa dan baru saja di mulai. Menangislah selagi tidak ada yang tahu, bapak tidak tahu kau di kamar sedang apa, menangislah. Sepuasnya. Tidak ada yang memarahimu ketika engkau sembunyi di sini. Anggap ini kastil tahananmu, sebab ia kecil sepetak, gelap dan lembab, dingin yang menyeru seisi kamar hingga membuatmu pening.
Cukup. usaplah hujan di matamu, simpan untuk nanti, tidak boleh hujan lebih dari lima jam kata Heru Budi, sebab kelopak matamu meninggalkan bengkak merah jambu. Karena mata, kawanku, adalah alat termudah untuk membacakan emosional seseorang, ia hanya ada dua, setiap lirikan yanng kau tatap menjadi gerak bahasa bagi sebagian orang. Mata, alat tatap yang dimiliki manusia, memiliki banyak keajaiban, ia bisa memandangmu, ia bisa membuatmu jatuh cinta, ia bisa membuatmu terkagum, ia bisa membuatmu menangis, ia bisa melakukan segala hal karena ialah pintu utamanya yang akan dicerna oleh otak, kedua ketiga keempat adalah hidung telinga dan mulut. Mata, seperti yang kau rasakan, emosi yang memuncak menampakkan guratan saraf merah di sklera serta pembuluh darah area matamu terganggu, "Kau tampak seperti iblis" pungakasmu. Hidungmu terlampau merah dan bengkak sebab kelenjar mukosamu tak henti berproduksi maka rongga hidungmu kesulitan untuk membendung lendir ingusmu. Kau melihat pantulan dirimu di cermin datar, cahaya yang dipantulkan pada cermin tidak maksimal, kamarmu remang, cerminmu memaparkan cahaya redam. Segeralah hidupkan lampu, adzan sudah tiba bapak akan memanggilmu untuk wudhu melaksanakan solat. Kau melihat kembali pantulan cermin yang memancarkan kembali cahaya yang sudah maksimal. Kau tampak terlihat begitu jelas, lebih jelas lagi kau jijik dengan dirimu, pantulan itu memperlihatkan sosok berambut panjang tergurai kusut, wajah yang merah jambu, sekali lagi.
Kau ini kenapa? Bukankah kehilangan semua orang adalah syarat kedua dalam pendewasaan, kesepian adalah syarat ketiga, dan manusia palsu adalah syarat pertama? Apa yang kau harapkan, gadisku? Sejak awal kau sudah siap untuk menghadapi situasi ini, kau kan yang memaklumi bahwa menjadi dewasa bukanlah hal yang perlu ditunggu sejak kecil. Kau yang kecil tidak ingin dewasa tidak juga ingin selalu kecil, sebab semua pertumbuhan adalah sama bagimu. Namun, kau yang kecil sudah ada di BAB pertama pada pendewasaan ini kau akan menjalaninya, mau tak mau, suka tak suka, ya sudah jalani saja untuk beberapa tahun ini. Tidak sebentar katamu, beberapa tahun adalah waktu yang menegangkan. Gadisku yang elok parasnya ketika tersenyum menimbulkan semburat merah di pipi, jangan terlalu muram, matamu terlalu sayang harus menahan kesedihan. Relakan semua yang tak kau inginkan, barangkali ini ujian dari Sang Pencipta-mu yang Maha Agung yang mengokohkanmu, jiwamu yang akan merelakan semuanya. Sayangku, tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan ibumu yang paling menyayangimu akan meninggalkanmu ketika sudah massanya tiba. Semua orang akan meninggalkanmu di sini lah bagaimana kamu akan menanggapinya, menyikapinya, bagaimana? Kerelaan adalah hadiah terbesar dari Sang Pencipta, sayang. Hati menjadi peran kedua di sini, hati adalah hal yang paling penting setelah mata sebab ia yang mengelola segala rasamu, sedihkah, senangkah, irikah, cemburukah, malaskah, relakah, ia yang mengelola.
Ketika lantunan mengaji sudah terdengar di mana-mana, dan burung dara yang patuh pada majikan untuk kembali ke sangkarnya, jingga yang menghentikan tur sorenya lalu menyusup ke sebuah ceruk yang tidak diketahui padam. Lebih gelap dari malam yang diterangi lampu jalan, kamar anak itu. Duduk di lantai bersangga dengan dipan, sebab tidak memiliki kursi duduk tidak pula memiliki meja. Baju yang sudah dipakainya selama dua hari, tidak menimbulkan bau apapun kecuali bau asap sampah sisa perjalanan. Dengarlah, kau baru memulainya, dan kehidupanmu baru mulai di usia 20an ini. Ini kesungguhan hidupmu, hidup sesungguhnya ketika engkau dewasa dan baru saja di mulai. Menangislah selagi tidak ada yang tahu, bapak tidak tahu kau di kamar sedang apa, menangislah. Sepuasnya. Tidak ada yang memarahimu ketika engkau sembunyi di sini. Anggap ini kastil tahananmu, sebab ia kecil sepetak, gelap dan lembab, dingin yang menyeru seisi kamar hingga membuatmu pening.
Cukup. usaplah hujan di matamu, simpan untuk nanti, tidak boleh hujan lebih dari lima jam kata Heru Budi, sebab kelopak matamu meninggalkan bengkak merah jambu. Karena mata, kawanku, adalah alat termudah untuk membacakan emosional seseorang, ia hanya ada dua, setiap lirikan yanng kau tatap menjadi gerak bahasa bagi sebagian orang. Mata, alat tatap yang dimiliki manusia, memiliki banyak keajaiban, ia bisa memandangmu, ia bisa membuatmu jatuh cinta, ia bisa membuatmu terkagum, ia bisa membuatmu menangis, ia bisa melakukan segala hal karena ialah pintu utamanya yang akan dicerna oleh otak, kedua ketiga keempat adalah hidung telinga dan mulut. Mata, seperti yang kau rasakan, emosi yang memuncak menampakkan guratan saraf merah di sklera serta pembuluh darah area matamu terganggu, "Kau tampak seperti iblis" pungakasmu. Hidungmu terlampau merah dan bengkak sebab kelenjar mukosamu tak henti berproduksi maka rongga hidungmu kesulitan untuk membendung lendir ingusmu. Kau melihat pantulan dirimu di cermin datar, cahaya yang dipantulkan pada cermin tidak maksimal, kamarmu remang, cerminmu memaparkan cahaya redam. Segeralah hidupkan lampu, adzan sudah tiba bapak akan memanggilmu untuk wudhu melaksanakan solat. Kau melihat kembali pantulan cermin yang memancarkan kembali cahaya yang sudah maksimal. Kau tampak terlihat begitu jelas, lebih jelas lagi kau jijik dengan dirimu, pantulan itu memperlihatkan sosok berambut panjang tergurai kusut, wajah yang merah jambu, sekali lagi.
Kau ini kenapa? Bukankah kehilangan semua orang adalah syarat kedua dalam pendewasaan, kesepian adalah syarat ketiga, dan manusia palsu adalah syarat pertama? Apa yang kau harapkan, gadisku? Sejak awal kau sudah siap untuk menghadapi situasi ini, kau kan yang memaklumi bahwa menjadi dewasa bukanlah hal yang perlu ditunggu sejak kecil. Kau yang kecil tidak ingin dewasa tidak juga ingin selalu kecil, sebab semua pertumbuhan adalah sama bagimu. Namun, kau yang kecil sudah ada di BAB pertama pada pendewasaan ini kau akan menjalaninya, mau tak mau, suka tak suka, ya sudah jalani saja untuk beberapa tahun ini. Tidak sebentar katamu, beberapa tahun adalah waktu yang menegangkan. Gadisku yang elok parasnya ketika tersenyum menimbulkan semburat merah di pipi, jangan terlalu muram, matamu terlalu sayang harus menahan kesedihan. Relakan semua yang tak kau inginkan, barangkali ini ujian dari Sang Pencipta-mu yang Maha Agung yang mengokohkanmu, jiwamu yang akan merelakan semuanya. Sayangku, tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan ibumu yang paling menyayangimu akan meninggalkanmu ketika sudah massanya tiba. Semua orang akan meninggalkanmu di sini lah bagaimana kamu akan menanggapinya, menyikapinya, bagaimana? Kerelaan adalah hadiah terbesar dari Sang Pencipta, sayang. Hati menjadi peran kedua di sini, hati adalah hal yang paling penting setelah mata sebab ia yang mengelola segala rasamu, sedihkah, senangkah, irikah, cemburukah, malaskah, relakah, ia yang mengelola.
Gadisku, kekosongan itu selalu ada ia tak akan benar-benar pergi dalam hidupmu, ia selalu ada di setiap yang memungkinkan tak ada. 0, sunyi, lapang, , itulah kosong. Kekosongan diperlukan ketika ia tidak diperlukan, 0 = kesepian. Bagimu kesepian adalah bagian dari hina seperti tidak ada yang mau, tidak ada tempat, semuanya kosong seperti bilangan 0, bilangan yang hanya lingkaran saja tengahnya tak sesiapapun yang mau mengisi sebab ia 0. Bagimu kesepian itu seperti mengerjakan aktivitas dan lelap untuk tidur, kau mau apa? Lakukanlah sendiri. Sebab kau terlalu kosong dan bagimu kosong menjadi simbolmu dalam perjalanan ini. Bagimu, kau hanya lingkaran karena kau 0. Kau tak berhentinya menganggap dirimu 0. Lingkaran yang tak memiliki pintu di manapun ia susah diisi, adakala lingkaran memerlukan isi tapi semua hal memaklumi bahwa dia tak bisa diisi, ya, karena kau kosong, kau tak perlu diisi. Bagimu semua terasa jauh sekali lagi kosong menghimpitkan lingkarannya untuk memastikan apakah semua orang benar-benar jauh. Ya, mereka suda jauh tak lah perlu bertanya berkali-kali, mereka sudah sibuk bersama yang lain. Sibuk bersama temannya, pasangannya, dan kegiatannya. seperti 8 yang berpasangan 0 dengan 0, seperti 10 yang berpasangan 1 dengan 0. Dan kau 0, kau tak memiliki apa yang kau dambakan apa.
Maret 2024
Komentar
Posting Komentar